Jpeg

Obyek Wisata Dieng

NEGERI DI ATAS AWAN DATARAN TINGGI DIENG

DIENG. Dataran tinggi yang terkenal dengan julukan negeri khayangan ini menyimpan beraneka ragam kekayaan alam dan budaya yang menarik. wajar jika kemudian tempat ini menjadi magnet yang menarik siapa saja untuk berkunjung, menyusuri jengkal demi jengkal panorama serta peninggalan budaya yang dimilikinya.

Dieng bukan sekedar tempat wisata liburan biasa. Berkunjung ke Dieng bisa juga sebagai sarana ziarah sejarah. Lewat peninggalan-peninggalan budaya jawa kuno dan sisa-sisa kemegahannya, kita diajak untuk mengenang dan menemukan kembali, merenungkan untuk kemudian bersyukur atas kekayaan peradaban budaya yang kita miliki.

Asal Usul Dieng

Secara Etimologi nama Dieng berasal dari kata “dhi” artinya Gunung, dan “hyang” yang artinya dewa, Jika kedua kata tersebut digabungkan maka menghasilkan arti bahwa Dieng merupakan wilayah pegunungan tempat bersemayam para dewa dan dewi.

Hal tersebut berkaitan dengan keyakinan yang banyak berkembang di Dunia pada masa lampau dimana tempat yang lokasinya tinggi dianggap sebagai tempat yang dekat dengan langit dimana para dewa bertahta. Tempat-tempat Tinggi seperti yang dimaksud di atas dikenal dengan sebutan Kailasa yang artinya Khayangan Syiwa yang Suci. Karena itulah Dieng yang berada di Ketinggian 2000 lebih di atas permukaan laut dikenal juga sebagai negeri para Dewa.

Suhu Udara dan Kondisi alam Dieng

Sepanjang perjalanan menyusuri Dieng, pemandangan lekuk pegunungan diantara jalan kecil yang berkelok menanjak dan menukik diantara perbukitan dengan lahan pertanian penduduk menghiasi di kanan-kiri akan menjadi awal pembuka petualangan anda di Dieng.

Suhu yang kian mendekati Dieng kian dingin seperti memberi kode kepada pengunjung untuk mengenakan jaket, sweater dan baju penghangat lainnya.

Suhu udara di Dieng memang cenderung dingin. Berbeda dengan suhu udara diperkotaan, Pada musim-musim kemarau justru udara di Dieng bisa lebih dingin daripada di musim penghujan.

Suhu normal di Dieng antara 15 derajat celcius hingga 20 derajat celcius dan bekisar antara 8 derajat hingga 10 derajat celcius pada malam hari.
Pada musim kemarau,(antara bulan Juni, Juli Agustus hingga September) Suhu udara bisa mencapai 0 derajat di malam hari. sampai-sampai menyebabkan embun di pagi hari membeku. masyarakat menyebut fenomena alam ini dengan sebutan bun upas yang artinya embun racun.

Dinamakan bun upas karena embun beku tersebut dapat merusak lahan pertanian penduduk yang di dominasi tanaman kentang, kobis, uncang, dan wortel.

Keseharian Masyarakat Dieng.

Di Dieng anda akan menjadi saksi bagaimana modernitas dan budaya lokal bisa saling bersinergi mendukung satu dengan yang lain menciptakan harmoni sosial yang ramah, hangat, dan arif.

Masyarakat Dieng yang sebagian besar adalah petani tidak menjadikan mereka abai akan pentingnya pendidikan bagi generasinya. Karena itu disepanjang perjalanan menuju Dieng anda akan menemukan banyak bangunan sekolah-sekolah dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi.

Di sisi lain, sisi religius masyarakat dataran tinggi Dieng juga sangat terjaga, berbagai sarana Ibadah dan pendidikan agama sangat mudah ditemui di Daerah ini. Tidak heran jika ada wisatawan menjuluki Dieng sebagai Desa seribu Masjid, karena selang beberapa meter saja anda dapat menjumpai bangunan masjid atau langgar di daerah ini.

Budaya Masyarakat Dieng yang memiliki nenek Moyang Hindu juga masih sangat tampak dari Ritual-ritual budaya yang diselenggarakan secara rutin setiap tahun seperti Baritan, Mardi Deso, Ruwatan Rambut Gimbal dan lain sebagainya.

03 Feb 2016
Dalam Kategori: Info Dieng